Latest News

Showing posts with label PWR. Show all posts
Showing posts with label PWR. Show all posts

Tuesday, March 15, 2011

Evaluation Of The First Indonesian Nuclear Power Plant Core Of PWR Type

EVALUATION OF THE FIRST INDONESIAN NUCLEAR POWER PLANT CORE OF PWR TYPE

Endiah Puji Hastuti
PTRKN - BATAN

ABSTRACT
EVALUATION OF THE FIRST INDONESIAN NUCLEAR POWER PLANT CORE OF PWR TYPE.
Development planning for the first Nuclear Power Plant in Indonesia has been appeared on National Energy System (NES=National Energy System) and also on NPP roadmap. One of this step is arranging of user requirement document (URD). Regarding to those document the reactor will be selected for the first NPP should be has the proven technology or has been operated. Concerning to the variatif design of Nuclear power plant by difference vendor, it is necessary to study about basic design of NPP, especially for reactor core design. Purpose of this assessment are to explain the technical aspect of core design for PWR 1000MWe class. Methodology used in this evaluation base on IAEA safety standard, BAPETEN regulation and BATAN cooperation. The selection of reactor core design should be base on design philosophy that refer to simplicity, the high safety margin and also proven technology. The advantage of safety design from conventional reactor to passive system reactor will increase the safety design. The evaluation results show there is variations reactor power for 1000MWe class from 900MWe till 1100MWe was design by many reactor vendors. Regarding to the proven definition by BAPETEN, there is possibility to select the advanced PWR in the future.

Key words: NPP reactor core design, PWR 1000MWe class, first Indonesia NPP
Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 � 2910 Surakarta, 17 Oktober 2009

EVALUASI DESAIN TERAS REAKTOR DAYA TIPE PWR PERTAMA INDONESIA

ABSTRAK
EVALUASI DESAIN TERAS REAKTOR DAYA TIPE PWR PERTAMA INDONESIA.
Rencana pembangunan reaktor PLTN pertama di Indonesia telah dituangkan dalam Sistem Energi Nasional (SEN) dan direncanakan dalam roadmap PLTN. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah penyusunan dokumen pengguna (URD=user requirement document). Reaktor yang akan dipilih adalah reaktor yang telah proven atau telah dioperasikan. Mengingat bahwa desain reaktor bervariatif, maka perlu dikaji dasar pemilihan desain, dalam kajian ini dibatasi pada desain teras reaktor saja. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan aspek teknis desain teras PWR kelas 1000MWe. Metodologi yang digunakan adalah kajian melalui penelusuran persyaratan desain teras reaktor daya dari Badan tenaga atom internasional (IAEA=International Atomic Energy Agency), dan badan regulasi dalam hal ini adalah BAPETEN serta dari berbagai sumber hasil kerjasama BATAN. Pemilihan desain teras reaktor harus berdasarkan pada filosofi desain yang mengacu pada desain yang sederhana, marjin keselamatan yang tinggi dan bukan merupakan reaktor yang sedang diuji. Peningkatan desain keselamatan reaktor dari konsep sistem keselamatan yang sederhana dengan konsep sistem aktif yang dikembangkan pada PWR yang telah proven menjadi sistem keselamatan pasif, mempunyai nilai tambah pada desain keselamatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rentang daya reaktor kelas 1000MWe yang didesain oleh berbagai vendor, sangat bervariasi antara 900 MWe hingga 1100MWe. Mengacu pada definisi proven yang terdapat pada peraturan BAPETEN, tidak tertutup kemungkinan pemilihan reaktor daya maju di masa depan.

Kata kunci: desain teras reaktor daya, PWR kelas 1000MWe, PLTN I Indonesia

PENDAHULUAN

Rencana pembangunan reaktor PLTN pertama di Indonesia telah dituangkan dalam Sistem Energi Nasional (SEN) [1] dan direncanakan dalam roadmap PLTN. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah penyusunan dokumen pengguna (UCD = User Common Document) dan dokumen persyaratan pengguna (URD=user requirement document [2]. Dokumen persyaratan pengguna berisi kebijakan yang diambil dalam memilih tipe reaktor daya yang akan dibangun sebagai PLTN pertama di Indonesia. Reaktor pembangkit daya pertama yang akan dipilih adalah reaktor yang telah proven atau telah mempunyai pengalaman operasi. Mengingat bahwa setiap vendor memiliki desain reaktor yang berbeda, maka perlu dikaji dasar pemilihan desain, dalam kajian ini dibatasi pada desain teras reaktor saja. Reaktor merupakan tempat berlangsungnya reaksi fisi yang merupakan sumber penghasil panas yang sangat besar pada reaktor pembangkit energi. Berbeda dengan pembangkit daya yang berbahan bakar fosil, reaktor PLTN selain membangkitkan panas juga menyebabkan paparan radiasi yang sekecil mungkin boleh diterima oleh pekerja radiasi maupun masyarakat sekitar, oleh karena itu persyaratan yang diterapkan pada desain reaktor sangat ketat. Selain itu terdapat berbagai jenis reaktor PLTN dengan berbagai tingkat daya dan fitur keselamatan yang selalu dikembangkan oleh berbagai vendor, untuk memilih jenis reaktor pertama di Indonesia tentu harus dilakukan dengan hati hati berdasarkan berbagai kriteria yang telah ditetapkan.

Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan aspek teknis desain teras PWR kelas 1000MWe. Diharapkan kajian desain teras reaktor daya dan perkembangannya memberikan pemahaman yang komprehensip bagi pengambil keputusan, sebagai pertimbangan pemilihan desain teras reaktor daya. Metodologi yang digunakan adalah kajian melalui penelusuran persyaratan desain teras reaktor daya dari Badan tenaga atom internasional (IAEA=International Atomic Energy Agency), dan badan regulasi dalam hal ini adalah BAPETEN serta dari EPRI (Electrical power research Institute).

Perkembangan desain teras reaktor daya dari berbagai vendor dengan berbagai variasi daya, juga merupakan aspek yang perlu dikaji. Pemilihan desain teras reaktor harus berdasarkan pada filosofi desain yang mengacu pada desain yang sederhana, marjin keselamatan yang tinggi dan bukan merupakan reaktor yang sedang diuji. Peningkatan desain keselamatan reaktor dari konsep sistem keselamatan yang sederhana dengan konsep sistem aktif yang dikembangkan pada PWR yang telah beroperasi menjadi sistem keselamatan pasif, mempunyai nilai tambah pada desain keselamatan.

DESKRIPSI PERSYARATAN DESAIN TERAS REAKTOR

Kriteria Desain
Sebelum menentukan desain teras reaktor daya pertama, terdapat beberapa pertanyaan terkait desain, lisensi serta pendanaan dan kontrak di bawah ini[3]. Parameter terkait desain PLTN dan kinerja teknis.
1. Berapa standard daya yang direncanakan?
2. Fitur keselamatan yang dipilih, dari aspek keselamatan, ekonomi, lingkungan, limbah, infrastruktur dan ketersediaan di Indonesia?
3. Bagaimana keterkaitan desain dengan dokumen pembanding seperti URD atau EUR?
4. Apakah tujuan utama desain yang diharapkan?
5. Bagaimana dengan pengalaman desain dan validasi yang dimiliki terkait desain yang diusulkan dan desain yang serupa?

Pertanyaan terkait keselamatan dan lisensi PLTN
1. Apakah desain telah memenuhi persyaratan badan pengawas?
2. Apakah desain yang diajukan telah memenuhi standard keselamatan IAEA?
3. Apakah desain telah mendapatkan lisensi?
4. Apakah kejadian eksternal telah diperhitungkan dalam desain?
5. Apakah desain fitur keselamatan telah meminimalkan kecelakaan hipotetis terparah?
6. Bagaimana pengaturan pasokan bahan bakar?
7. Apakah ada rencana pengambilan kembali uranium dari bahan bakar bekas?

Pertanyaan terkait dengan pendanaan dan kontrak
1. Bagimana tipe pendanaan yang akan dipilih?
2. Bagaimana kontrak pengiriman yang akan dipilih?
3. Apakah ada kebijakan kerjasama dengan partisipasi nasional atau transfer teknologi dan transfer pengalaman.

Jawaban atas pertanyaan di atas akan menentukan kebijakan awal ke arah jenis dan ukuran reaktor yang akan dipilih. Selanjutnya terdapat persyaratan standard keselamatan yang harus dipenuhi sesuai dengan peraturan badan tenaga atom internasional dan badan pengawas di Indonesia.

Badan Tenaga Atom Internasional telah menetapkan persyaratan standard keselamatan untuk desain teras reaktor yaitu Safety standard NS-R-1: Safety of Nuclear Power Plant [4]. Untuk memenuhi ketentuan persyaratan tersebut maka standar tersebut diuraikan lebih rinci dalam Safety Guide IAEA No: NS-G-1.12 tentang Design of the reactor for Nuclear Power Plant [5,6], yang dibuat dengan tujuan untuk memberikan rekomendasi terkait fitur keselamatan di dalam desain reaktor daya. Di bawah ini diuraikan tujuan dan konsep desain yang perlu diperhatikan.

- Tujuan dan konsep keselamatan
Ada tiga tujuan keselamatan pokok yang menjadi dasar untuk memperoleh persyaratan guna meminimalkan risiko terkait dengan desain reaktor daya, yaitu
1. Tujuan Umum Keselamatan Nuklir yang didesain untuk melindungi perorangan, masyarakat dan lingkungan dari kerusakan dengan membentuk dan menjaga pertahanan yang efektif terhadap bahaya radiologis di dalam instalasi nuklir.
2. Tujuan Proteksi Radiasi, yang dimaksudkan untuk menjamin agar dalam semua keadaan operasi paparan di dalam instalasi atau paparan akibat pelepasan zat radioaktif yang direncanakan dari instalasi dijaga agar berada di bawah batas yang ditetapkan dan sesuai dengan prinsip ALARA (as low as reasonably achievable), serta untuk memastikan mitigasi konsekuensi radioaktif dari setiap kecelakaan.
3. Tujuan Keselamatan Teknis adalah untuk melakukan semua tindakan yang mungkin dalam rangka mencegah kecelakaan di dalam instalasi nuklir dan memitigasi konsekuensinya seandainya terjadi kecelakaan, dan untuk menjamin dengan tingkat keyakinan yang tinggi bahwa, untuk semua kecelakaan yang mungkin yang diperhitungkan dalam desain instalasi, termasuk kecelakaan-kecelakaan yang memiliki kebolehjadian yang kecil, konsekuensi radiologisnya akan kecil dan di bawah batas yang ditetapkan; serta menjamin agar kemungkinan terjadinya kecelakaan yang memiliki konsekuensi radiologis serius sangat kecil.

- Persyaratan manajemen keselamatan
Di dalam persyaratan ini dijelaskan bahwa organisasi pengoperasi memiliki tanggung jawab menyeluruh terhadap keselamatan. Meskipun demikian, semua organisasi yang terlibat dalam kegiatan yang penting terhadap keselamatan memiliki tanggung jawab untuk menjamin agar hal-hal mengenai keselamatan diberikan prioritas tertinggi.

Dalam persyaratan ini diatur beberapa hal yaitu:
- organisasi desain harus menjamin agar instalasi didesain dengan memenuhi persyaratan dari organisasi pengoperasi, termasuk segala persyaratan standar utilitas;
- desain menyertakan perkembangan mutakhir dalam teknologi keselamatan;
- desain telah sesuai dengan spesifikasidesain dan analisis keselamatan;
- agar desain memenuhi persyaratan pengawasan nasional;
- agar desain memenuhi persyaratan mengenai program jaminan mutu yang efektif;
- dan agar keselamatan dalam setiap perubahan dalam desain dipertimbangkan dengan saksama.

Persyaratan teknis utama
Persyaratan utama yang menjadi dasar desain adalah konsep pertahanan berlapis. Konsep pertahanan berlapis diterapkan pada semua aktivitas keselamatan, baik yang terkait dengan organisasi, perilaku ataupun desain, persyaratan ini bertujuan untuk menjamin agar seluruh aktivitas keselamatan terkena ketentuan yang berlapis, agar apabila terjadi kegagalan, akan dapat dideteksi dan dikompensasi atau dikoreksi dengan tindakantindakan yang tepat. Konsep ini telah dikembangkan lebih jauh sejak 1988. Penerapan konsep pertahanan berlapis pada seluruh desain dan operasi memberikan proteksi bertingkat terhadap berbagai macam transien, kejadian operasional terantisipasi dan kecelakaan, termasuk yang disebabkan oleh kegagalan peralatan atau tindakan manusia di dalam instalasi, dan kejadiankejadian yang berasal dari luar instalasi.

Persyaratan desain instalasi
Desain instalasi mensyaratkan terpenuhinya klasifikasi keselamatan Struktur, sistem dan komponen (SSK), termasuk perangkat lunak untuk instrumentasi dan kendali (I&K) yang penting bagi keselamatan harus diidentifikasi dan diklasifikasi berdasarkan fungsi dan bobot kepentingannya terhadap keselamatan. Struktur, sistem dan komponen tersebut harus didesain, dikonstruksi dan dirawat sedemikian sehingga mutu dan keandalannya sepadan dengan klasifikasi ini.

Persyaratan untuk desain sistem instalasi
Perlu dicatat bahwa keselamatan nuklir diperoleh melalui kombinasi berbagai desain manufaktur, konstruksi dan operasi. Aspek penting ditinjau dari neutronik, thermohidrolika, mekanikal, kimia dan iradiasi untuk desain teras reaktor daya yang aman.

KESELAMATAN DALAM DESAIN REAKTOR
Desain teras reaktor mencakup bagian internal bejana reaktor dan peralatan yang terpasang di dalam bejana reaktor untuk keperluan kendali reaktivitas dan system shutdown reactor. Interaksi dari internal dan desain teras reaktor mencakup bagian internal bejana reaktor dan peralatan yang terpasang, peralatan dengan pendingin reaktor dan komponen sistem pendingin reaktor termasuk batas tekanan.

Desain teras reaktor harus mencakup struktur, sistem dan komponen:
- Perangkat bahan bakar (fuel assembly) dan penopang bahan bakar dan komponen lainnya di dalam konfigurasi geometris yang telah ditentukan, moderator dan pendingin di dalam teras reaktor.
- Komponen dan struktur yang digunakan untuk kendali reaktivitas dan shutdown, penyerap neutron (padat atau cair), struktur terkait dan mekanisme penggerak batang kendali, dan komponen terkait di dalam sistem fluida. Struktur penopang (support structures) yang melengkapi fondasi teras di dalam bejana reaktor, struktur pengarah aliran pendingin, seperti core barrel atau tabung tekanan, dan tabung pengarah (guide tube) untuk kendali reaktivitas.
- Internal bejana reactor lainnya, seperti tabung instrumentasi, instrumentasi di dalam teras untuk monitoring teras, pemisah uap dan sumber neutron Teras reaktor adalah tempat terjadinya reaksi fisi, persyaratan desain keselamatan yang harus diperhatikan pada desain teras reaktor dan fitur keselamatan terkait tidak berbeda dengan desain reaktor secara keseluruhan yaitu:
- Tujuan keselamatan nuklir secara umum (General Nuclear safety objective): yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari bahaya dengan cara menjaga dan mempertahankan (establishing and maintaining) instalasi nuklir secara efektif terhadap ancaman bahaya radiologi.
- Tujuan proteksi radiasi (radiation protection objektif): untuk menjamin agar pada setiap kondisi operasi paparan iradiasi di dalam instalasi nuklir atau paparan yang direncanakan/disebabkan oleh lepasnya material radioaktif dari instalasi yang dipertahankan berada di bawah limit dan as low as reasonably achievable, dan untuk menjamin mitigasi dari konsekuensi radiologis dari berbagai kecelakaan.

Desain Umum teras reaktor dan fitur keselamatan terkait
- Teras reaktor dan sistem pendingin, kendali dan proteksi terkait harus didesain dengan margin yang tepat untuk menjamin agar batasan desain yang ditetapkan tidak dilampaui dan agar standar keselamatan radiasi berlaku pada semua status operasi dan kecelakaan dasar desain, dengan memperhitungkan nilai ketidaktpastian yang ada.
- Teras reaktor dan komponen internalnya yang berada di dalam bejana reaktor harus didesain dan dipasang sedemikian rupa sehingga dapat bertahan terhadap beban statis dan dinamis yang diperkirakan pada semua status operasi, kecelakaan dasar desain dan kejadian luar sampai ke tingkat yang diperlukan untuk menjamin pemadaman reaktor yang aman, dalam rangka menjaga reaktor agar tetap subkritis dan menjamin reaktor tetap dingin.
- Derajat maksimum reaktivitas positif dan laju maksimum peningkatan reaktivitas positif akibat penyisipan pada status operasi dan kecelakaan dasar desain harus dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kegagalan pada bagian dari sistem pendingin reaktor bertekanan, kemampuan pendinginan akan tetap terjaga, dan tidak ada kerusakan yang berarti pada teras reaktor.
- Harus dijamin bahwa kebolehjadian terjadinya kekritisan-ulang (recriticallity) atau ekskursi reaktivitas yang mengikuti kejadian pemicu terpostulasi dapat diminimalkan di dalam desain.
- Teras reaktor dan sistem pendingin, kendali dan proteksi yang terkait harus didesain untuk dapat dengan mudah diinspeksi dan diuji sepanjang umur instalasi.
- Tujuan keselamatan teknis (technical safety objective). Untuk mengambil seluruh pengukuran yang dapat dilakukan guna mengantisipasi kecelakaan di instalasi nuklir dan memitigasi konsekuensi yang dapat terjadi, untuk menjamin dengan kepercayaan tinggi, bahwa seluruh kecelakaan yang mungkin terjadi telah diperhitungkan dalam desain instalasi, termasuk yang memiliki probabilitas rendah.

Tuesday, March 8, 2011

Analysis Of Advanced Fuel Assembly Characteristic Of The PWR Core

ANALYSIS OF ADVANCED FUEL ASSEMBLY CHARACTERISTIC OF THE PWR CORE

Tukiran S, Iman Kuntoro
BATAN

ABSTRACT
ANALYSIS OF ADVANCED FUEL ASSEMBLY CHARACTERISTIC OF THE PWR CORE.
Study on reactor physics characteristic of the PWR core using UO2 fuel it is necessary to be done to minimize plutonium proliferation and also to expand the long life fuel in the core. The aim of characteristic study of the advanced fuel assembly is to know the characteristic of geometry, condition and configuration of pin cell in the fuel assembly. The geometry, configuration and condition of the pin cell in fuel core determine the loading strategy of in-core fuel management. Calculation of k-eff is a part of the neutronic core parameter calculation to know the reactor physics characteristic. Generally, The calculation is done using computer code starts from modeling one unit fuel lattice cell, fuel assembly, burnable poison and until core reactor. In this research, the modeling of pin cell and advanced fuel assembly that UO2 fuel material and 6.5 % enrichment is 17 �17 fuel rod of the PWR core type. Calculation of the k-eff is done with variation of the fuel volume fraction, fuel pin diameter, fuel enrichment. The calculation is using KENOVI code. The result showed that the value of k-eff for pin cell and fuel assembly PWR 17 �17 is not different significantly with homogenous and heterogeneous models. The results for fuel volume fraction of 0.5; rod pitch 1.32 cm; fuel enrichment of 6.5 % and fuel pin diameter of 9.6 mm is critical with burn up of 50.0 GWd/t and plutonium proliferation is lower then safety margin. The advanced fuel assembly can be used in the PWR core to higher the utilization of the core as long as operation.

Keywords : PWR, multiplication factor, fuel assembly, KENOVI
Prosiding Seminar Nasional ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910 Surakarta, 17 Oktober 2009

ABSTRAK
ANALISIS KARAKTERISTIK PERANGKAT BAHAN BAKAR MAJU TERAS PWR
. Saat ini dibutuhkan perangkat bahan bakar maju teras PWR untuk meminimalkan peningkatan plutonium dalam bahan bakar dan meningkatkan derajat bakar atau masa hidup bahan bakar didalam teras. Studi karakteristik perangkat bahan bakar maju teras PWR sangat penting dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahan bakar selama operasi. Geometri, kondisi dan konfigurasi pin bahan bakar pada teras sangat menentukan strategi pemuatan bahan bakar pada teras (In-core fuel management). Perhitungan k-eff merupakan salah satu tahapan dalam perhitungan karakteristik perangkat bakar maju teras PWR. Perhitungan dilakukan dengan paket program komputer dimulai dari pemodelan satu unit kisi sel bahan bakar, tabung pengarah, racun dapat bakar, hingga satu perangkat bahan bakar reaktor. Dalam penelitian ini, dilakukan berbagai pemodelan perangkat bahan bakar maju UO2 pengkayaan 6,5 % yang merupakan perangkat bahan bakar maju tipe PWR 17�17. Perhitungan k-eff pin dan perangkat bahan bakar dilakukan dengan fraksi volum, diameter pin, pengayaan bahan bakar divariasi. Perhitungan dilakukan dengan paket program KENOVI. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa harga k-eff untuk pemodelan secara homogen dan heterogen tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada perhitungan pin sel dan perangkat bahan bakar 17x17. Untuk fraksi volum bahan bakar 0,5; rod pitch 1,32 cm, pengkayaan 6,5 % dan diameter pin bahan bakar 9,6 mm mempunyai karaktetistik fisika teras yang stabil dengan fraksi bakar 50 GWd/t dan jumlah plutonium dalam perangkat bahan bakar masih dibawah batasan yang ditetapkan. Perangkat bahan bakar maju dapat digunakan sebagai bahan bakar pada teras PWR dan dapat meningkatkan keandalan teras PWR selama operasi.

Kata kunci : PWR, faktor multiplikasi, perangkat bahan bakar, KENOVI

1. PENDAHULUAN

Permasalahan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir tipe PWR adalah bagaimana caranya untuk meningkatkan nilai fraksi bakar bahan bakar namun tidak menambah jumlah plutonium di dalam bahan bakar hasil iradiasi. Sehingga jumlah plutonium tidak meningkat dengan lamanya bahan bakar di dalam teras reaktor. Untuk meningkatkan utilisasi bahan bakar tetapi dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan yang paling utama.

Untuk menjawab tantangan di atas maka di desain suatu perangkat bahan bakar maju (advanced fuel assembly) yaitu perangkat bahan bakat tipe PRW dengan geometri 17 x17. Perangkat bahan bakar mempunyai pengkayaan 6,5 %. Namun untuk menurunkan rekativitas lebih teras digunakan racun dapat bakar erbinium (Er-167). Pengkayaan bahan bakar divariasi dan jumlah racun dapat bakar juga divariasi di dalam perangkat bahan bakar. Kemudian dianalisi fator keselamatan dari perangkat bahan bakar tersebut dengan menggunakan perhitungan komputer

Dalam penelitian ini dilakukan pemodelan pin sel dan perangkat bahan bakar PLTN jenis PWR untuk menghitung harga faktor multiplikasi. Dilihat dari cara perhitungan tampang lintang makroskopik kisi sel bahan bakarnya, maka perangkat bahan bakar tersebut dimodelkan menjadi perangkat bahan bakar homogen. Perhitungan kisi sel bahan bakar sebagai persiapan data tampang lintang makroskopik dilakukan dengan paket program NITAWL, CENTRM dan KENOVI. Program ini merupakan beberapa modul yang ada di program besar SCALE5.1 [1]. Ketiga program perhitungan ini menggunakan metode yang berbeda dan model pin sel serta perangkat bahan bakarnya divariasi. Parameter yang dianalisis adalah harga k-eff pada setiap langkah pembakaran baik kisi sel maupun perangkat bahan bakar dan distribusi faktor daya saat awal siklus. Dari analisis hasil perhitungan diharapkan dapat diketahui karakteristik fisika teras yang terjadi akibat perbedaan pengkayaan dan variasi racun dapat bakar.

Thursday, December 23, 2010

Safety Evaluation Of Reactor Core For PWR Based On Initiating Event And Design Aspect

SAFETY EVALUATION OF REACTOR CORE FOR PWR BASED ON INITIATING EVENT AND DESIGN ASPECT

D. T. Sony Tjahyani
PTRKN - BATAN

ABSTRACT
SAFETY EVALUATION OF REACTOR CORE FOR PWR BASED ON INITIATING EVENT AND DESIGN ASPECT.
Safety evaluation for NPP is important to determine frequency and consequence of fission product released to public and environmental. Those condition is caused by core damage and containment system failure. Core damage is caused initiating events and safety system failure. Safety system failure is dependent by 6 items that is single failure criteria, redundancy, independency, diversity, fail-safe concept, system interaction and dependencies. The objective of the evaluation is to determine those items to system failure and initiating events contribution to core damage. PWR for generation II and III (III+) are used as object of study for this assessment. The analysis was carried out by collecting initiating event and core damage data also to assess design configuration of PWR for generation II and III (III+). The evaluation results showed that system modification of generation II is significant to core safety level for generation III (III+) PWR, so it is to reduce initiating events and core damage frequency.

Keywords: PWR, Core Damage, Initiating Event, PWR for Generation II and III
Proceeding Seminar Nasional Ke-15 "TEKNOLOGI DAN KESELAMATAN PLTN SERTA FASILITAS NUKLIR", Surakarta, 17 Oktober 2009

Tuesday, December 7, 2010

Analysis Fuel Burn-Up Distribution Of 1000 MWe PWR-NPP Core Fuelled By UO2 3,4 Wt%.

ANALYSIS FUEL BURN-UP DISTRIBUTION OF 1000 MWE PWR-NPP CORE FUELLED BY UO2 3,4 WT%.

Jati Susilo1, Tukiran Surbakti2, Iman Kuntoro3
1,2Pusat Teknologi Reaktor Dan Keselamatan Nuklir (PTRKN)
3Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir

ABSTRACT
ANALYSIS FUEL BURN-UP DISTRIBUTION OF 1000 MWE PWR-NPP CORE FUELLED BY UO2 3,4 WT%.
To support utilization of nuclear energy programme, therefore preliminary research about characteristic neutronic for PWR-NPP of core has been done. Some neutronic characteristic that related to core safety is limitation value of discharge burn-up maximum produced by fuel assembly in the core. In this research, to know value of discharge burn-up each fuel assembly in the core, then calculation of fuel burn-up distribution at the PWR core fuelled UOBBB2BBB with 3.4wt% enrichment and Zr-4 for cladding. Those PWR core can produce about 3411 MWth power heat, so that it is classified into PWR 1000 MWe class power of NPP. To analysis fuel burn-up distribution, then use 2 different method of fuel loading pattern as follow. In the PWR-A core, fuel group divided to 2 class of fuel burn-up (2 batch) or each � part of the core. And, fuel group in the PWR-B core distributed in the 3 class of fuel burn-up (3 batch) or each 1/3 part of the core. Core burn-up calculation done using ASMBURN module of SRAC computer code in the 2 dimension geometry with � model of the core. The macroscopic cross section table get by calculation of fuel cell using module PIJ of SRAC with JEND.3.3. As public library data. Temperature of the fuel pellet, cladding and moderator are 900 K, 600 K, and 600 K, respectively. From the calculation result knew that PWR-A core produce average discharge burn-up of fuel assembly (34.55 GWd/t) smaller then PWR-B core (38.01 GWd/t). Discharge burn-up maximum of fuel assembly at the PWR-A core and the PWR-B core are 38.77 GWd/t and 42.36 GWd/t, respectively. So that, with limitation of fuel assembly discharge burn-up maximum in the PWR core fuelled UOBBB2BBB with 3.4 wt% is about 39 GWd/t, then those PWR more exactly using 2 batch fuel loading pattern.

Keywords : burn-up, PWR, UOBBB2BBB, SRAC
Proceeding Seminar Nasional Ke-15 "TEKNOLOGI DAN KESELAMATAN PLTN SERTA FASILITAS NUKLIR", Surakarta, 17 Oktober 2009

Saturday, September 25, 2010

Analysis Of Main Steam Line Break Accident Outside Containment On PWR

ANALYSIS OF MAIN STEAM LINE BREAK ACCIDENT OUTSIDE CONTAINMENT ON PWR

Andi Sofrany Ekariansyah
Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir - BATAN
PTRKN-BATAN, Kawasan PUSPIPTEK Gd. 80, Serpong, Tangerang, 15310

ABSTRACT
ANALYSIS OF MAIN STEAM LINE BREAK ACCIDENT OUTSIDE CONTAINMENT ON PWR.
An analysis of main steam line break (MSLB) accident on PWR using RELAP/SCDAPSIM/Mod3.2 code has been done. Accident analysis is important to be performed because it is contained in the Safety Analysis Report (SAR) before the nuclear power plant construction for assessing the safety of reactor facility. The purposes of analysis are to know the accident sequence characteristics and any parameter changes important for safety. The Tsuruga Unit 2 with 1160 MWe output is used as reference. One main steam pipe located at one loop outside the containment is assumed to experience a double-ended steam pipe break. Analysis is performed for 2 cases, which are one MSIV of one secondary loop is failed to close (Case 1) and all MSIVs of 4 secondary loop are failed to close (Case 2). The results show that the excessive core cool down on Case 2 is higher than on Case1, shown by the higher decrease of primary pressure, decrease of pressurize water level into empty condition, and the higher decrease of average core temperature. There are no coolant condition at upper vessel and voids at core channel, which is disappeared along with the safety injection from ECCS. An increase of core reactivity and thermal power are indicated, but no differences between the two cases. From the safety point of view, the success of reactor protection system to trip the reactor and operability of safety injection from ECCS is able to maintain the core in a safe and cool condition according to the safety criteria.

Keywords: Main steam line break, PWR, RELAP/SCDAPSIM/Mod3.2
Published : Proceeding "SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN ENERGI NUKLIR II 2009", Jakarta, 25 Juni 2009

Thursday, December 31, 2009

PRIMARY SYSTEM DEPRESSURIZATION ACCIDENT ANALYSIS IN THE HTTR

PRIMARY SYSTEM DEPRESSURIZATION ACCIDENT ANALYSIS IN THE HTTR

Ign. Djoko Irianto, Sarwo D.Danupoyo, Sahala M.Lumbanraja
Center for Nuclear Technology Assessment - BATAN
Email: igndjoko@batan.go.id

ABSTRACT
PRIMARY SYSTEM DEPRESSURIZATION ACCIDENT ANALYSIS IN THE HTTR.
The behavior of the HTTR (High Temperature Testing Reactor) during depressurization accident caused by a primary pipe rupture was analyzed in a safety analysis of HTTR. The analysis was performed using TAC-NC computer code which is a thermal hydraulics code used to calculate thermal transient, including natural circulation. This paper describes analytical model, analytical condition and analytical results during the depressurization accident. The analytical results proved that thermal transient behavior during depressurization accident is slower than that of the PWR (Pressurized Water Reactor) for the similar accident. It also proved that the maximum fuel temperature does not exceed the normal operation temperature 1495 C, and the maximum pressure vessel temperature would remain below its limit of 550 C.

Keywords : Primary System, Accident Analysis, HTTR, Thermal Transient.
Published : Proceeding "Seminar dan Lokakarya ke-3 Teknologi dan Aplikasi Reaktor Temperatur Tinggi", Jakarta, 3-4 Juni 1996, ISSN No. : 0854-8803

Wednesday, December 30, 2009

STUDY OF SEVERE ACCIDENT MANAGEMENT STRATEGY FOR PWR TYPE REACTOR

STUDY OF SEVERE ACCIDENT MANAGEMENT STRATEGY FOR PWR TYPE REACTOR

Ign. Djoko Irianto 1) and Edison Sihombing 2)
1) Center for Nuclear Technology Assessment - BATAN
2) Center for Multipurpose Reactor
Email: igndjoko@batan.go.id

ABSTRACT
STUDY OF SEVERE ACCIDENT MANAGEMENT STRATEGY FOR PWR TYPE REACTOR.
Accident management is establishment of all the actions which aim to anticipate accidents and mitigate the consequences due to the accidents in nuclear power plants such as PWR type reactors. There are two categories of accidents, that are; the accidents in the DBA (design basis accident) category and the accidents in the beyond DBA category, namely severe accident. Accident management comprises the prevention measure to maintain the core cool ability and containment integrity for design basis accident events using safety-related and inside the design limits. There are two phases of severe accident management. One is the countermeasure to prevent severe damage to the reactor core that is called "phase-1 accident management". The other is the countermeasure to mitigate the consequences of severe accident that is called "phase-2 accident management", this countermeasure particularly to keep the containment vessel integrity in order to mitigate the material radioactive release to the environment. This paper describes a concept of some countermeasure according to the severe accident management such as to maintain core cooling, containment integrity and some support system to the safety function.

Keywords : Severe Accident Management, Design Basis Accident, PWR.
Published : Proceeding "Seminar Teknologi dan Keselamatan PLTN serta Fasilitas Nuklir - IV", Serpong, 10-11 Desember 1996, ISSN No. : 0854-2910

Friday, December 11, 2009

LOSS OF SECONDARY COOLANT ACCIDENT ANALYSIS FOR PIUS TYPE REACTOR USING RELAP5/MOD2

LOSS OF SECONDARY COOLANT ACCIDENT ANALYSIS FOR PIUS TYPE REACTOR USING RELAP5/MOD2

Ign. Djoko Irianto
Center for Nuclear Technology Assessment - BATAN
Email: igndjoko@batan.go.id

ABSTRACT
LOSS OF SECONDARY COOLANT ACCIDENT ANALYSIS FOR PIUS TYPE REACTOR USING RELAP5/MOD2.
Process Inherent Ultimate Safety (PIUS) reactor concept is a reactor concept that intrinsically based on passive safety. This reactor refer to Pressurized Water Reactor (PWR) wherein the primary system is submerged in a pool of poison water. The operating principle is to maintain the pressure balance, so that no inflow from pool to the primary system. On loss of secondary coolant accident, primary coolant temperature increases, it is followed by the increase of primary pump speed. When the upper limit is reached, the pump is tripped. Due to the pressure balance disturbance, poison water flows from pool to the primary system, then reactor shut down. This accident condition was simulated by experimental and numerical simulation using RELAP5/MOD2. Numerical simulation was done to the experimental apparatus nodalization that was set on the norm of RELAP5/MOD2. This nodalization consist of 119 volumes, 127 junctions, and 106 heat structures. Analysis was carried out using both experimental and numerical simulation results. It can be concluded that PIUS type reactor is able to anticipate loss of coolant accident because its capability of self shut down.

Keywords : LOCA, PIUS type Reactor, RELAP5/MOD2, PWR.
Published : Proceeding of "Komputasi Dalam Sains dan Teknologi Nuklir VI", Jakarta, 16-17 Januari 1997.

Tags